Cumulus itu tampak mencapai dew point nya. Menyiram bumi
Rawamangun dengan butir-butir presipitasi di malam sunyi. Membasahi
jalan, tempat bernaung berbagai macam kehidupan. Di bawah pohon
rindang, beberapa pengendara sepeda motor menepi. Ada yang sekadar
memakai jas hujan, kemudian pergi. Namun ada pula yang bertahan,
tertahan oleh keadaan. Aku dan seorang temanku salah satunya. Kami tidak
membawa jas hujan.
Di seberang jalan di atas trotoar,
terparkir sebuah rumah. Tidak seperti pada umumnya, rumah ini beroda
dan biasa di dorong oleh si empunya. Sungguh istimewa!
Plastik cukup lebar terbentang di atasnya. Kepala yang sesekali
menyembul ke luar, serta bayang-bayang tubuh manusia di dalamnya
menandakan bahwa rumah itu berpenghuni.
Tidak jauh
dari rumah itu, meringkuk seorang kakek tua yang mencoba berdamai pada
keadaan. Lagi-lagi, benda kedap air itu menjadi satu-satunya harapan.
Memang tidak sekeren jas hujan. Tidak juga cukup untuk melindungi tubuh
rentanya dari sengatan dingin yang menusuk tulang. Belum lagi tetes demi
tetes air langit telah berhasil menembus pori-pori pakaian.
Meski begitu, siapa yang peduli? Manusia-manusia malam tetaplah sibuk
berlalu lalang. Mobil-mobil mewah itu pun tetap asik melaju kencang.
Bahkan, mungkin mereka tidak sadar akan adanya kakek tua dan rumah di
atas trotoar.
***
Gambar hanya ilustrasi. Sumber: google
Ijen namanya. Kepala keluarga dari seorang isteri dan dua orang anak. Anak lelakinya sudah berkeluarga. Sedangkan yang perempuan harus terlebih dahulu menemui ajal karena penyakit yang dideritanya. Meninggalkan dua orang anak yang kini harus diasuh dan tinggal bersama Ijen dan isteri.
Di dalam gerobak yang ia sulap menjadi sebuah
tempat tinggal, isteri dan kedua cucunya tertidur lelap. Seperti biasa,
tidak ada jatah ruang bagi dirinya. Maka ia pun memilih setia pada udara
malam meski saat itu hujan. “Ya mau gimana lagi, gerobaknya gak muat.
Gapapa lah, yang penting isteri dan cucu Bapak bisa istirahat”, ujarnya
pasrah.
Ijen dan keluarganya berasal dari Cirebon.
Disana, ia bekerja sebagai penggembala bebek-bebek tetangga. Sejak tahun
1992, ia memutuskan untuk mengadu nasib di Jakarta. Kemilau ibukota
telah banyak menghipnotis warga kampung seperti Ijen untuk
berbondong-bondong mendatanginya.
Kala mentari menyapa
pagi, rumah gerobak Ijen beralih fungsi menjadi sarana mencari
rejeki. Ia dan keluarganya berkeliling kota, mengumpulkan gelas-gelas
aqua. “Dari awal di Jakarta udah kerja begini. Habisnya kalau jadi kuli
bangunan atau yang lainnya kan mesti ada yang nyalurin. Lah saya disini
gak kenal siapa-siapa”, terangnya.
Dengan gerobaknya,
ia menyusuri jalan hingga ke Cempaka Mas, bahkan Senen. Kemacetan lalu
lintas Jakarta menjadi pemandangan sehari-hari. Terik matahari bercampur
polusi menjadi teman sejati.
Setelah tiga hari mulung,
barulah ia pergi ke ‘bos’ untuk menimbang hasil jerih payahnya.
“Sekarang gelas-gelas aqua harganya Rp.2000,00/kg, makin turun aja”,
keluhnya.
Dari situ ia mendapat penghasilan sekitar
Rp.100.000,00 – Rp.120.000,00 dalam tiga hari. Nasi dengan ditemani kerupuk, kadang kala
indomie. Menu favorit mereka agar bertahan dengan nilai tersebut selama
tiga hari kedepan.
Lanang, cucunya yang pertama.
Seharusnya kini sudah bergembira dengan seragam putih biru seperti
anak-anak yang sering ia temui di jalan-jalan kota. Namun kerasnya hidup
mengharuskannya puas pada bangku kelas lima SD saja. Yah, bisa makan
saja sudah Alhamdulillah.
Santini, adik Lanang
satu-satunya. Usianya kini menginjak tahun keenam. Ia amat senang jika
kakeknya mendapat tas gemblok anak-anak sewaktu mulung. Meski ia tidak
tahu apa itu sekolah dan bagaimana rasanya.
Kala
langit memerah, jalan-jalan ibukota mulai padat oleh kendaraan
manusia-manusia yang pulang mencari nafkah. Ijen mendorong
gerobaknya kembali ke Balai Pustaka, tempat rumah berjalannya biasa
singgah. Di pinggir jalan, di atas trotoar, di tengah keramaian.
Sempat terpikir olehku, mengapa Ijen dan gerobaknya tidak mencari
tempat singgah yang lebih nyaman? Seperti di taman-taman di tengah
jalan.
“Nggak boleh, nanti kena trantib bisa gawat.
Gerobaknya bisa diambil, saya tinggal dimana? Kalau mangkal di depan
rumah orang ya di usir sama yang punya rumah”, ujarnya lirih. Sungguh
malang nasib diri Pak Ijen dan teman-teman seperjuangannya.
Keberadaannya tidak diinginkan.
Sulit memang,
membayangkan ruang-ruang nyaman nan aman rumah normal digantikan oleh
sebuah gerobak kayu. Banyak hak-hak hidup yang tidak terpenuhi.
Kesehatan yang terabaikan, kebersihan yang hanya menjadi angan.
Untuk keperluan mandi cuci kakus (MCK), Ijen dan keluarga
menggunakan fasilitas toilet umum di terminal atau pasar. Satu kali
mandi bertarif Rp.2000,00. Sedangkan untuk mencuci pakaian Rp.5000,00.
Namun hal ini sejarang mungkin mereka lakukan, demi meminimalisir
pengeluaran.
Jikalau tubuh salah satu anggota keluarga
mulai meronta, obat-obatan di warung kelontong menjadi andalan. Namun
bila penyakit yang diderita cukup parah, Pak Ijen berusaha meminjam uang
pada bos, lalu berobat ke klinik. Sedikitpun mereka tidak berani
menginjakkan kaki di rumah sakit. Memakan banyak biaya, pikir mereka.
Belum tentu juga pihak rumah sakit mau menerima mereka, yang tidak punya
KTP Jakarta dan alamat rumah.
Bagaimanapun juga, Ijen dan keluarganya merupakan salah satu potret kehidupan Jakarta.
Gerobak-gerobak mereka menjadi pemandangan memilukan, di tengah mewahnya
lampu-lampu dan kendaraan yang mengular di tengah kota. Gerobak-gerobak
mereka menjadi saksi bisu, atas kemiskinan di Negeri gemah ripah loh
jinawi.
Begitulah nasib mereka. Yang kehadirannya tidak diinginkan, matinya pun tidak dipedulikan.
Dipersembahkan sebagai syarat mengikuti Orientasi Calon Anggota Baru (OCAB)
Lembaga Kajian Mahasiswa
Universitas Negeri Jakarta
2015
Rumah Berjalan
Reviewed by Literasi Bumi
on
Desember 13, 2017
Rating:
Reviewed by Literasi Bumi
on
Desember 13, 2017
Rating:

Tidak ada komentar: